Selasa, 10 Februari 2009
Hidup Itu Indah, Sayang
Kalau kita mendengarkan bahasa kehidupan dunia, sungguh kita akan takjub. Betapa tidak, kita sudah diatur sedemikian rupa teraturnya sehingga di akhir episode kita dapat menemukan hikmahnya. Biasanya di akhir episode itulah, kita baru sadar bahwa apa yang terjadi adalah sebuah jalan yang memang harus dilalui. Kita tidak usah mengatakan seandainya begini-begitu pasti akan begini-begitu. Begini-begitu adalah sebuah konsep manusia, sedangkan manusia itu tidaklah mengetahui apa-apa tentang sebuah peristiwa yang bakalan terjadi. Manusia hanya dapat berikhtiar dan memohon. Ketika ikhtiar dan permohonan belum sesuai yang diharapkan, kita hendaklah bersabar. Demikian pula, apabila yang diharapkan tidak sesuai dengan idealisme kita, hendaklah kita menerimanya dengan senang, jangan muncul sedikit pun kecewa, apalagi bersuudzon kepada Allah. Terimalah sesuatu dengan rasa syukur. Kalau memang sesuatu itu sangat diharapkan, apakah kita sudah maksimal dalam berikhtiar? Kalau sudah, bertawakallah. Yakinlah bahwa itu adalah yang terbaik untuk kita menurut Allah. Memang yang terbaik menurut kita terhadap sesuatu, belum tentu baik untuk kita menurut Allah. Prinsip yang paling baik adalah bahwa yang terbaik untuk kita hanyalah Allah yang tahu. Jika prinsip ini diterapkan, pasti hidup ini akan terasa indah. Indah dalam hal ini adalah keindahan untuk menerima bahasa dari Allah. Benar apa yang tertulis dalam filsafat Jawa kuno bahwa "urip iku saderma nglakoni". Jalanilah dengan enjoy hidup ini. Pastilah akan merasa hidup itu memang indah.
Sabtu, 07 Februari 2009
Kredit Pangkal Punya
Selama dasawarsa ini ada fenomena menarik yang patut dinalar. Bank-bank bersaing untuk mendapatkan kreditur, baik itu bank pemerintah maupun bank swasta, bahkan bank "ucek-ucek". Selain itu, dealer dan showroom pun tidak mau ketinggalan untuk mengejar nasabah atau kreditur. Mereka memberi kemudahan-kemudahan dan keringanan-keringanan. Mereka bersaing secara sehat, baik dengan suku bunga yang rendah maupun fasilitas yang menggiurkan. Semuanya dalam rangka mencari kreditur atau nasabah.
Kasus terakhir yang sangat menggiurkan adalah pengambilan kredit tanpa jaminan. Sebut saja "showroom kendaraan" misalnya, memberikan kredit kendaraan bermotor tanpa uang muka. Hanya bermodalkan fotokopi KTP, seseorang dapat membawa sepeda motor baru. Juga, ada kredit kendaraan khusus untuk pegawai negeri. Kredit ini tanpa "DP" serta bunganya sangat kecil. Beberapa bank menarik jasa administrasi yang agak tinggi untuk sebuak buku rekening. Artinya, masyarakat digiring untuk tidak mempunyai buku bank, artinya diharapkan ke buku kredit alias "hutang". Ada showroom yang mempersulit masyarakat jika hendak membeli kendaraan dengan cara tunai. Akan tetapi, bagi mereka yang membeli dengan cara kredit, dipermudah dan dipercepat. Fenomena apa ini? Orang punya duit malahan susah.
Fenomena kredit ini rupanya sudah mengakar dan membudaya. Kita akan susah kalau tidak kredit. Dunia pemberi kredit seolah menggiring masyarakat untuk terbelenggu dengan masalah ini. Apakah akan muncul pemeo baru, "kredit pangkal punya, tidak kredit tidak punya"?
Kasus terakhir yang sangat menggiurkan adalah pengambilan kredit tanpa jaminan. Sebut saja "showroom kendaraan" misalnya, memberikan kredit kendaraan bermotor tanpa uang muka. Hanya bermodalkan fotokopi KTP, seseorang dapat membawa sepeda motor baru. Juga, ada kredit kendaraan khusus untuk pegawai negeri. Kredit ini tanpa "DP" serta bunganya sangat kecil. Beberapa bank menarik jasa administrasi yang agak tinggi untuk sebuak buku rekening. Artinya, masyarakat digiring untuk tidak mempunyai buku bank, artinya diharapkan ke buku kredit alias "hutang". Ada showroom yang mempersulit masyarakat jika hendak membeli kendaraan dengan cara tunai. Akan tetapi, bagi mereka yang membeli dengan cara kredit, dipermudah dan dipercepat. Fenomena apa ini? Orang punya duit malahan susah.
Fenomena kredit ini rupanya sudah mengakar dan membudaya. Kita akan susah kalau tidak kredit. Dunia pemberi kredit seolah menggiring masyarakat untuk terbelenggu dengan masalah ini. Apakah akan muncul pemeo baru, "kredit pangkal punya, tidak kredit tidak punya"?
Rabu, 04 Februari 2009
BBM dan Logika Ekonomi
Menjelang akhir pemerintahan SBY-Kala, banyak kebijakan-kebijakan yang memihak rakyat diluncurkan. Satu yang paling populer adalah penurunan harga BBM jenis premium dan solar. Tidak tangung-tangung, frekuensinya sampai 3 kali. Kebijakan ini diambil tentunya bukan karena "ada udang di balik batu" menjelang Pemilu, tetapi karena mengikuti perkembangan harga minyak dunia. Itu yang pasti.
Kalau ditelusuri sampai pada masa awal pemerintahan SBY-Kala, tentunya kita belum lupa akan kebijakan yang tidak populer, yaitu menaikkan harga BBM. Pada masa itu BBM melambung tidak tanggung-tanggung. Masyarakat menjerit, protes dan demontrasi ada di mana-mana. Akibat dari kebijakan itu, harga kebutuhan pokok dan lain-lain ikut melambung, padahal pemerintah belum mengeluarkan aturan kenaikan. Masyarakat aktif menaikkan sendiri harga pasar segala kebutuhan, pasar susah dikontrol.Akan tetapi, itulah logika di negeri kita. Sejak zaman baheula, jika harga BBM naik, harga kebutuhan lainnya pun pasti naik, itu lazim.
Akan tetapi, logika itu menjadi tidak berlogika (anlogika) ketika pemerintah menurunkan harga BBM. Setelah harga BBM turun mestinya secara logika harga-harga kebutuhan lainnya termasuk jasa transportasi turun. Kenyataannya, tidak demikian yang terjadi. Setelah harga BBM turun, harga kebutuhan pokok dan jasa transportasi tidak turun. Mereka bermalas-malas untuk menurunkan tarif dan harga. Mengapa?
Kalau ditelusuri sampai pada masa awal pemerintahan SBY-Kala, tentunya kita belum lupa akan kebijakan yang tidak populer, yaitu menaikkan harga BBM. Pada masa itu BBM melambung tidak tanggung-tanggung. Masyarakat menjerit, protes dan demontrasi ada di mana-mana. Akibat dari kebijakan itu, harga kebutuhan pokok dan lain-lain ikut melambung, padahal pemerintah belum mengeluarkan aturan kenaikan. Masyarakat aktif menaikkan sendiri harga pasar segala kebutuhan, pasar susah dikontrol.Akan tetapi, itulah logika di negeri kita. Sejak zaman baheula, jika harga BBM naik, harga kebutuhan lainnya pun pasti naik, itu lazim.
Akan tetapi, logika itu menjadi tidak berlogika (anlogika) ketika pemerintah menurunkan harga BBM. Setelah harga BBM turun mestinya secara logika harga-harga kebutuhan lainnya termasuk jasa transportasi turun. Kenyataannya, tidak demikian yang terjadi. Setelah harga BBM turun, harga kebutuhan pokok dan jasa transportasi tidak turun. Mereka bermalas-malas untuk menurunkan tarif dan harga. Mengapa?
Senin, 12 Januari 2009
Renungan Bahasa 2
Orang Tua dan Bahasa
Peran orang tua dalam keluarga adalah menjadi pendidik bagi anak-anaknya. Orang tua adalah pihak yang paling bertangung jawab atas sikap dan perlikaku anak-anaknya. Memang, di luar rumah ada lingkungan, ada sekolah. Di dua tempat ini anak mendapat pendidikan sikap dan perilaku. Akan tetapi, orang tua adalah penoreh lembaran anak yang paling pertama dan utama. Seperti selembar kertas, mau diisi apa tergantung pada penulisnya.
Pemerolehan pembelajaran sikap dan perilaku yang sangat utama pada keluarga adalah ketika orang tua berkomunikasi dengan anak-anaknya dan anggota keluarga yang lain. Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi di dalam keluarga akan terekam dalam otak anak-anak kita, input bahasa itu akan tersimpan sangat kuat dalam memorinya. Kata-kata kasar dan kotor sangat mudah ditangkap oleh anak-anak kita. Kata-kata kotor sangat familiar bagi anak. Sekali saja anak menangkap kata-kata kotor dan kasar, ia akan menggunakannnya kapan saja dan di mana saja. Kata-kata yang dikeluarkan oleh anak-anak kita adalah cerminan perilaku anak tersebut. Namun, harus disadari juga sebenarnya di balik itu tercermin juga perilaku orang tuanya.
Orang tua yang selalu santun dalam bertutur tercermin juga pada kesantunan anak-anaknya ketika berkomunikasi. Memang terkadang, kesantunan bertutur yang sudah dipelihara dengan baik di keluarga, suatu saat tercemar oleh pergaulan di lingkungan. Anak dan orang tua yang terbiasa santun dalam berkomunikasi, kadang dikejutkan oleh letupan kosa kata-kosa kata kotor dari anak. Bila kita sudah yakin kesantunan komunikasi sudah terjaga dalam keluarga, kita dapat berkomentar bahwa kata-kata kotor itu datang dari pergaulan lingkungan. Kalau keadaannya seperti itu, filter keluarga harus sangat kuat.
Gambaran di atas adalah indikator betapa bahasa orang tua sangat berpengaruh terhadap tingkah laku dan kesantunan anak-anak. Pemerolehan bahasa yang kotor dari luar sesungguhnya dapat dinetralisasi secara kontinyu. Perlu kegigihan orang tua untuk itu.
Peran orang tua dalam keluarga adalah menjadi pendidik bagi anak-anaknya. Orang tua adalah pihak yang paling bertangung jawab atas sikap dan perlikaku anak-anaknya. Memang, di luar rumah ada lingkungan, ada sekolah. Di dua tempat ini anak mendapat pendidikan sikap dan perilaku. Akan tetapi, orang tua adalah penoreh lembaran anak yang paling pertama dan utama. Seperti selembar kertas, mau diisi apa tergantung pada penulisnya.
Pemerolehan pembelajaran sikap dan perilaku yang sangat utama pada keluarga adalah ketika orang tua berkomunikasi dengan anak-anaknya dan anggota keluarga yang lain. Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi di dalam keluarga akan terekam dalam otak anak-anak kita, input bahasa itu akan tersimpan sangat kuat dalam memorinya. Kata-kata kasar dan kotor sangat mudah ditangkap oleh anak-anak kita. Kata-kata kotor sangat familiar bagi anak. Sekali saja anak menangkap kata-kata kotor dan kasar, ia akan menggunakannnya kapan saja dan di mana saja. Kata-kata yang dikeluarkan oleh anak-anak kita adalah cerminan perilaku anak tersebut. Namun, harus disadari juga sebenarnya di balik itu tercermin juga perilaku orang tuanya.
Orang tua yang selalu santun dalam bertutur tercermin juga pada kesantunan anak-anaknya ketika berkomunikasi. Memang terkadang, kesantunan bertutur yang sudah dipelihara dengan baik di keluarga, suatu saat tercemar oleh pergaulan di lingkungan. Anak dan orang tua yang terbiasa santun dalam berkomunikasi, kadang dikejutkan oleh letupan kosa kata-kosa kata kotor dari anak. Bila kita sudah yakin kesantunan komunikasi sudah terjaga dalam keluarga, kita dapat berkomentar bahwa kata-kata kotor itu datang dari pergaulan lingkungan. Kalau keadaannya seperti itu, filter keluarga harus sangat kuat.
Gambaran di atas adalah indikator betapa bahasa orang tua sangat berpengaruh terhadap tingkah laku dan kesantunan anak-anak. Pemerolehan bahasa yang kotor dari luar sesungguhnya dapat dinetralisasi secara kontinyu. Perlu kegigihan orang tua untuk itu.
Renungan Bahasa
Di Balik Fungsi Primer Bahasa
Fungsi primer bahasa adalah sebagai alat komunikasi, baik bahasa tulis mupun lisan. Alat untuk mengungkapkan suatu maksud ini suatu saat dapat berfungsi sekunder. Bila bahasa sudah difungsikan secara sekunder, banyak hal makro dapat terselesaiakan. Bahasa yang difungsikan secara sekunder ini sebenarnya tidak terlepas dari fungsi primernya. Fungsi sekunder merupakan efek dari fungsi konkret bahasa itu sendiri.
Kita dapat bercermin dari Cina. Betapa gigihnya negeri ini agar dapat bersaing di pasar global Asia. Persiapan besar yang dilakukan Cina adalah mengajarkan bahasa kepada dunia. Hampir di semua negara Asia ada pembelajaran bahasa Mandarin. Tidak tanggung-tanggung Cina mempromosikan bahasa nasionalnya secara besar-besaran. Semua biaya dan prasarana ditanggung Cina. Kelompok relawan pengajar pun langsung didatangkan dari Cina. Semua biaya penyelenggaranaan pengajaran bahasa Mandarin ditanggung oleh Cina.MoU dengan pemerintah pun dilakoni Cina.
Hebat, memang! Tidak satu negara pun yang demikian gigihnya memasarkan bahasa negaranya. Di balik kegigihannya itu, Cina sudah jauh mengatur strateginya untuk menghadapi perang ekonomi di kawasan Asia dan Eropa. Strategi itu ialah agar dunia menguasai bahasanya. Bila dunia sudah menguasai bahasa Mandarin, hal yang sangat mudah bagi Cina untuk memasarkan produk-produk andalannya. Strategi seperti ini pernah dilakukan oleh bangsa-bangsa penjajah. Sebut saja, Belanda atau Jepang. Untuk bisa tetap bercokol di daerah jajahan, Belanda mengajarkan bahasanya kepada pribumi.
Sudah menjadi rahasia umum, ada udang di balik batu. Ada maksud di balik pemasaran bahasa. Maksud yang sangat besar dan menjanjikan bagi perkembangan suatu negara bisa diawali dengan cara memasarkan bahasa.
Fungsi primer bahasa adalah sebagai alat komunikasi, baik bahasa tulis mupun lisan. Alat untuk mengungkapkan suatu maksud ini suatu saat dapat berfungsi sekunder. Bila bahasa sudah difungsikan secara sekunder, banyak hal makro dapat terselesaiakan. Bahasa yang difungsikan secara sekunder ini sebenarnya tidak terlepas dari fungsi primernya. Fungsi sekunder merupakan efek dari fungsi konkret bahasa itu sendiri.
Kita dapat bercermin dari Cina. Betapa gigihnya negeri ini agar dapat bersaing di pasar global Asia. Persiapan besar yang dilakukan Cina adalah mengajarkan bahasa kepada dunia. Hampir di semua negara Asia ada pembelajaran bahasa Mandarin. Tidak tanggung-tanggung Cina mempromosikan bahasa nasionalnya secara besar-besaran. Semua biaya dan prasarana ditanggung Cina. Kelompok relawan pengajar pun langsung didatangkan dari Cina. Semua biaya penyelenggaranaan pengajaran bahasa Mandarin ditanggung oleh Cina.MoU dengan pemerintah pun dilakoni Cina.
Hebat, memang! Tidak satu negara pun yang demikian gigihnya memasarkan bahasa negaranya. Di balik kegigihannya itu, Cina sudah jauh mengatur strateginya untuk menghadapi perang ekonomi di kawasan Asia dan Eropa. Strategi itu ialah agar dunia menguasai bahasanya. Bila dunia sudah menguasai bahasa Mandarin, hal yang sangat mudah bagi Cina untuk memasarkan produk-produk andalannya. Strategi seperti ini pernah dilakukan oleh bangsa-bangsa penjajah. Sebut saja, Belanda atau Jepang. Untuk bisa tetap bercokol di daerah jajahan, Belanda mengajarkan bahasanya kepada pribumi.
Sudah menjadi rahasia umum, ada udang di balik batu. Ada maksud di balik pemasaran bahasa. Maksud yang sangat besar dan menjanjikan bagi perkembangan suatu negara bisa diawali dengan cara memasarkan bahasa.
Rabu, 07 Januari 2009
Catatan Untuk Siswa (Refleksi Movingclass)
Movingclass sebuah Solusi
Mulai semester 2 tahun pelajaran 2008/2009, SMA Negeri 2 Purbalingga mulai menerapkan sistem movingclass secara menyeluruh. Tiga hari sudah sistem itu berjalan. Setelah tiga hari itu, saya mewawancarai beberapa siswa tentang bagaimana kesan atau tanggapan setelah penerapan movingclass. Kebanyakan siswa mengatakan capek, tetapi ada beberapa yang mengatakan asyik. Sejak hari pertama ujicoba, kegiatan KBM berjalan lancar. Memang ketakutan-ketakutan sudah terlontar sebelaumnya. Namun, ketakutan itu terjawab sudah. Siswa dan guru dapat melaksanakan program tersebut dengan lancar dan enjoy.
Di balik movingclass, ada sesuatu maksud yang agung. Movingclass bukan gaya atau model yang tanpa maksud, tapi penuh latar belakang dan tujuan yang sangat idealis dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya di SMA Negeri 2 Purbalingga. Alur logika sederhananya adalah: satu, dengan movingclass dapat menghilangkan kejenuhan suasana. Dua, dengan movingclass siswa bergerak untuk berpindah kelas. Mereka harus berjalan. Dengan berjalan ini motorik siswa selalu aktif. Bandingkan kalau tidak moving, saat berganti pelajaran para siswa tetap di kelas, biasanya mereka lesu, ngantuk. Akan tetapi, dengan moving para siswa selalu energik. Karena energik, reaksi dengan lingkungan pun semakin baik. Termasuk reaksi menerima pelajaran. Oleh karena itulah, barangkali Badan Standar Nasional Pendidikan mengupayakan agar sekolah standar nasional (SSN)dan rintisannya atau SBI dan rintisannya menerapkan movingclass sitem.
Mulai semester 2 tahun pelajaran 2008/2009, SMA Negeri 2 Purbalingga mulai menerapkan sistem movingclass secara menyeluruh. Tiga hari sudah sistem itu berjalan. Setelah tiga hari itu, saya mewawancarai beberapa siswa tentang bagaimana kesan atau tanggapan setelah penerapan movingclass. Kebanyakan siswa mengatakan capek, tetapi ada beberapa yang mengatakan asyik. Sejak hari pertama ujicoba, kegiatan KBM berjalan lancar. Memang ketakutan-ketakutan sudah terlontar sebelaumnya. Namun, ketakutan itu terjawab sudah. Siswa dan guru dapat melaksanakan program tersebut dengan lancar dan enjoy.
Di balik movingclass, ada sesuatu maksud yang agung. Movingclass bukan gaya atau model yang tanpa maksud, tapi penuh latar belakang dan tujuan yang sangat idealis dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya di SMA Negeri 2 Purbalingga. Alur logika sederhananya adalah: satu, dengan movingclass dapat menghilangkan kejenuhan suasana. Dua, dengan movingclass siswa bergerak untuk berpindah kelas. Mereka harus berjalan. Dengan berjalan ini motorik siswa selalu aktif. Bandingkan kalau tidak moving, saat berganti pelajaran para siswa tetap di kelas, biasanya mereka lesu, ngantuk. Akan tetapi, dengan moving para siswa selalu energik. Karena energik, reaksi dengan lingkungan pun semakin baik. Termasuk reaksi menerima pelajaran. Oleh karena itulah, barangkali Badan Standar Nasional Pendidikan mengupayakan agar sekolah standar nasional (SSN)dan rintisannya atau SBI dan rintisannya menerapkan movingclass sitem.
Profesionalitas Guru
Profesionalitas Guru dan Batu Bara
UU No 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen mensyaratkan guru merupakan sebuah profesi yang membutuhkan profesionalitas anggotanya. Diharapkan profesi guru seperti Ikatan Dokter Indonesia dan Ikatan Advokasi Indonesia. UU tersebut merupakan kebijakan pemerintah dalam rangka meningkatkan derajat guru. Jabatan guru dan dosen diharapkan berbeda dengan jabatan-jabatan lain.
Upaya untuk peningkatan profesionalitas guru sudah banyak dilakukan, seperti : diklat, workshop, seminar, dan kegiatan-kegiatan tak bernama yang intinya bertujuan meningkatkan profesionalitas guru. Keseriusan pemerintah untuk meningkatkan profesionalitas guru diawali dengan seleksi guru profesional melalui penilaian portofolio. Para guru yang lulus portofolio dianggap sebagai guru yang profesional, sedangkan guru yang tidak lulus dianggap belum profesional, mereka harus menempuh jalur diklat PLPG agar menjadi profesional.
Untuk menjadi guru yang profesional kuncinya adalah pada komitmen diri, yakni sejauh mana upaya diri untuk meningkat. Sekuat dan segencar apa pun upaya pemerintah, kalau komitmen masing-masing guru lemah, upaya itu akan sia-sia. Guru adalah manusia yang berpendidikan, tentunya mudah diajak untuk meningkat. Tetapi, kenyataannya? Guru masih tertatih-tatih kalau diajak profesional. Sebenarnya, apa yang menjadi kendala dan solusi apa untuk meningkatkan profesionalitas guru itu?
Seringkali saat guru sedang mengikuti diklat atau sejenisnya, saat itu semangat untuk meningkat membara dan ide-ide cemerlang bermunculan. Di saat diklat itulah semangat guru terbakar oleh motivasi-motivasi fasilitator. Semangat guru membara, bahkan menyala-nyala. Biasanya, saat itu pula ia ingin segera memulainya. Akan tetapi, setelah sampai di sekolah, apa yang yang terjadi? Bara itu padam! Guru mulai terbebani oleh tugas-tugas dan kegiatan lain yang sudah menghadang. Tugas-tugas dan kegiatan yang mestinya menjadi bagian dari profesionalitas guru dianggap menjadi air yang memadamkan bara. Akhirnya, idealis guru saat diklat atau sejenisnya terbang lepas.
Mestinya, bara-bara idealis harus tetap berkobar. Caranya: Satu, tetaplah berkomunikasi dengan rekan diklat, fasilitator, widyaiswara sehingga jalinan keilmuan tidak putus. Kedua, bentuklah komunitas alumni diklat dan tindak lanjuti dengan kegiatan –kegiatan yang menunjang secara periodik. Ketiga, tetaplah berkomitmen untuk profesional, di mana pun, kapan pun dan seberapa pun. Empat, ketika sertifikat guru profesional sudah diperoleh, bertangung jawablah atas sertifikat itu, jadikanlah sertifikat itu sebagai pengontrol diri.
Kuncinya adalah komitmen yang kuat dan kontinyu dan selalu mendekat dengan api sebagai penyulut bara profesional.
UU No 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen mensyaratkan guru merupakan sebuah profesi yang membutuhkan profesionalitas anggotanya. Diharapkan profesi guru seperti Ikatan Dokter Indonesia dan Ikatan Advokasi Indonesia. UU tersebut merupakan kebijakan pemerintah dalam rangka meningkatkan derajat guru. Jabatan guru dan dosen diharapkan berbeda dengan jabatan-jabatan lain.
Upaya untuk peningkatan profesionalitas guru sudah banyak dilakukan, seperti : diklat, workshop, seminar, dan kegiatan-kegiatan tak bernama yang intinya bertujuan meningkatkan profesionalitas guru. Keseriusan pemerintah untuk meningkatkan profesionalitas guru diawali dengan seleksi guru profesional melalui penilaian portofolio. Para guru yang lulus portofolio dianggap sebagai guru yang profesional, sedangkan guru yang tidak lulus dianggap belum profesional, mereka harus menempuh jalur diklat PLPG agar menjadi profesional.
Untuk menjadi guru yang profesional kuncinya adalah pada komitmen diri, yakni sejauh mana upaya diri untuk meningkat. Sekuat dan segencar apa pun upaya pemerintah, kalau komitmen masing-masing guru lemah, upaya itu akan sia-sia. Guru adalah manusia yang berpendidikan, tentunya mudah diajak untuk meningkat. Tetapi, kenyataannya? Guru masih tertatih-tatih kalau diajak profesional. Sebenarnya, apa yang menjadi kendala dan solusi apa untuk meningkatkan profesionalitas guru itu?
Seringkali saat guru sedang mengikuti diklat atau sejenisnya, saat itu semangat untuk meningkat membara dan ide-ide cemerlang bermunculan. Di saat diklat itulah semangat guru terbakar oleh motivasi-motivasi fasilitator. Semangat guru membara, bahkan menyala-nyala. Biasanya, saat itu pula ia ingin segera memulainya. Akan tetapi, setelah sampai di sekolah, apa yang yang terjadi? Bara itu padam! Guru mulai terbebani oleh tugas-tugas dan kegiatan lain yang sudah menghadang. Tugas-tugas dan kegiatan yang mestinya menjadi bagian dari profesionalitas guru dianggap menjadi air yang memadamkan bara. Akhirnya, idealis guru saat diklat atau sejenisnya terbang lepas.
Mestinya, bara-bara idealis harus tetap berkobar. Caranya: Satu, tetaplah berkomunikasi dengan rekan diklat, fasilitator, widyaiswara sehingga jalinan keilmuan tidak putus. Kedua, bentuklah komunitas alumni diklat dan tindak lanjuti dengan kegiatan –kegiatan yang menunjang secara periodik. Ketiga, tetaplah berkomitmen untuk profesional, di mana pun, kapan pun dan seberapa pun. Empat, ketika sertifikat guru profesional sudah diperoleh, bertangung jawablah atas sertifikat itu, jadikanlah sertifikat itu sebagai pengontrol diri.
Kuncinya adalah komitmen yang kuat dan kontinyu dan selalu mendekat dengan api sebagai penyulut bara profesional.
Langganan:
Postingan (Atom)
FITUR KEBAHASAAN PADA GENRE TEKS
Kaidah Kebahasaan pada Pembelajaran Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di SMA diarahkan pada pengembangan ...
-
Di Balik Fungsi Primer Bahasa Fungsi primer bahasa adalah sebagai alat komunikasi, baik bahasa tulis mupun lisan. Alat untuk mengungkapkan s...
-
EKSPLORASI, ELABORASI, DAN KONFIRMASI DALAM RPP DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN oleh Joko Rusmanto A. Definisi Menurut Kamus Besar Bahasa Ind...
-
Kaidah Kebahasaan pada Pembelajaran Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di SMA diarahkan pada pengembangan ...