Kamis, 02 Juli 2020

Syair Kehidupan


Syair Begja Seorang Penderes

Di sebuah desa yang melarat
Hiduplah seorang pemuda kuat
Lagi baik tutur dan sifat
Pada sesama apalagi kerabat

Tak banyak pikir tak banyak timbang
Selepas eSDe, ia  berpetualang
Layaknya orang tua membanting tulang
Demi memburu segenggam uang

            Putuskan  tuk ikut jejak sang ayah
            Setelah berkelana bersusah payah
            Mencari makan mencari upah
            Hingga hidup pelik dan susah

            Hidupnya teramat sederhana
            Sebagai pengolah nira
            Yang diambil dari manggar kelapa
            Bertahun jalani dengan gembira

Suatu hari hati tertambat
Pada dara yang selalu dihasrat
Cantik elok dan menawan amat
Membuat debar hati selalu kumat 

Ketika disangkanya cukup umur
Apalagi tambah sedikit makmur
Karna bukanlah sebagai penganggur
Bangun siasat, strategi diatur 

Mohon izinlah kepada orang tua
Sampaikan maksud di dalam dada
Untuk melamar si cantik jelita
Yang sudah lama selalu menggoda

Setelah bertukar bertimbang
Dengan rasa berat dan sayang
Putuskan juga untuk tersayang
Berikan izin dan segepok uang 

Dipinanglah gadis pujaan
Membangun bahtera kehidupan
Untuk berlayar mengarung lautan
Menuju pantai kebahagiaan

Tak tahu harus bagaimana
Ungkapkan gembira atau lara
Karna belum berselang lama
Lahirlah si kecil buah damba

Hati senang hidup sang ayah
Walau harus lebih bersusah
Ia jalani hidup dengan payah
Demi taati janji dan petuah

Suatu sore yang temarang
Angin berhembus di atas ilalang
Merdu burung berkicau riang
Siul gadis sambil berdendang

Sore yang temarang menjadi kelabu
Langit senja berubah sendu
Angin menjadi bertiup menderu
Siul gadis menjadi tangis haru

Di ladang yang jauh nan sepi
Si Begja digaris hidup dan mati
Ini bukan mimpi tapi tragedi
Tapi musibah alam sejati

Musibah sedang menjemput
Takdir melintas membawa maut
Yang sungguh-sungguh ditakut
Yang tak bisa dikumut mulut

Pegangan Begja tiba-tiba terlepas
Dari papah kelapa jauh di atas
Melayang menerjun bebas
Terkapar di tanah cadas

Malang tak dapat ditolak
Tak boleh berkata tidak
Semua jadi tersentak
Karena Begja jadi tergeletak

Hari berbulan, bulan bertahun
Di atas dipan Begja tertegun
Hanya dapat rasakan tikar mengalun
Dalam buai malam yang santun


Dalam hidup yang gelisah
Karna  tak dapat mencari maisah
Tersebar-sebarlah risalah
Ia hanya bertawakal dan pasrah

Yang seperti ini terus dijalani
Tak kenali lagi waktu dan hari
Bagai air mengalir di kali
Terus ikuti  muara tlah lampaui

Sampailah pada suatu malam
Kekasih tercinta membuang kelam
Ia tak mau terus terbenam
Dalam hidup yang terasa asam

Sang kekasih putuskan pergi
Tinggalkan Begja yang tak berarti
Karena tak tahan hidup dalam misteri
Memang iman tak punya nyali

Hari berbulan, bulan bertahun
Di atas dipan Begja tertegun
Anak isteri tak ada santun
Tinggalkan dia bertahun-tahun

Hingga kabar berita terpetik
Sang kekasih telah berputik
Bersama lelaki futuristik
Yang tak tahu hidup yang klasik

Memang Begja insan yang sabar
Ia tak pernah sekalipun sesumbar
Hatinya selalu tegar berbinar
Walau petir terasa terus menyambar

Kesabaran akhirnya berbuah manis
Tanpa harus hidup dengan mengemis
Karna ia punya hati yang agamis
Bahwa mengemis adalah amis

Walau hidup dalam keterbatasan
Allah yang rozak telah menetapkan
Semua yang hidup dapat jaminan
Tanpa dilebihkan tanpa dikurangkan.

Syair Kehidupan


Syair Mbah Aceh

Berpuluh tahun Mbah Aceh merantau
Di bumi Serambi Mekah yang berkilau
Sebagai transmigran dari sebrang pulau
Karna di bumi sendiri hidup kacau
Awalnya ia sangat sengsara
Membabad hutan belantara
Membuka ladang membuka asa
Tuk hidupi sanak keluarga
Biji yang disemai mulai tumbuh
Ia jaga dengan sungguh-sungguh
Ditunggu sejak pagi  menjelang subuh
Sampai siang saat membasuh peluh
Tak sia-sia ia membanting tulang
Lagu riang mengumandang dari ladang
Sebagai awal mula mendapat uang
Saat jatah dari negri mulai terbang
Mbah Aceh tersenyum puas
Dia tak ingin bermalas-malas
Juga tak ingin dimelas
Oleh negri yang punya alas
Anak  isteri mulai dituruti
Kain dan kebaya mulai diganti
Makan dan minum mulai bergizi
Aman tentramlah rasa di hati
Saat derajat hendak meningkat
Datanglah orang-orang keparat
Yang kerasukan syetan laknat
Merampas dan membunuh tanpa adat
Tunggang langganglah mereka
Selamatkan diri yang utama
Isteri entahlah ke mana
Anak dan menantu juga
Hanya berbekal secarik kain
Ia harus rela dan yakin
Hanya satu yang dibatin
Tinggalkan ladang beratus ubin
Daripada nyawa melayang
Mati hanya untuk ladang
Lebihlah baik ia pulang
Walaupun harus berpetualang
Entah ke mana ia berlari
        Entah ke mana ia bersembunyi
        Tak tahu arah, tak paham negeri
        Yang utama keselamatan diri
Di pelabuhan ia bertemu
Dengan istri yang sudah keju
Berjam-jam setia menunggu
Dengan rasa mengharu biru
Mereka bertemu soal
Yang tak bisa diakal
Memang mereka sedang sial
Tak sempat membawa sedikit pun bekal
Kepada siapa  harus meminta
Tak ada sanak dan keluarga
Apakah ada orang yang iba
Di tengah-tengah hidup sengsara
Tuhan pengasih dan penyayang
Bertemulah seorang berhati lapang
Walau sendiri sedang gersang
Saudara-saudaranya terhunus pedang
Persamaan nasib jadi berarti
Membawanya sampai negri sendiri
Walau dengan berbagai rasa hati
Semua itu harus disyukuri
Di negri sendiri jadi merana
Rumah sudah tak lagi ada
Tanah juga sudah tiada
Buat modal membuka asa
Seorang tetangga berhati mulia
Meminjamkan rumah sementara
Sampai mereka dapat usaha
Sebagai pengganti rasa kecewa
Air matanya tak henti mengalir
Bila teringat hidup yang anyir
Liku-liku, pahit, dan getir
Yang tiada pernah terpikir
Para sanak yang entah siapa
Gigih membantu tuntaskan lara
Dibangun gubug di belakang musala
Untuk Mbah Aceh pejamkan mata
Mulailah ia menata hidup
Dari berbekal seperti kuncup
Bagai dian yang sudah redup
Ibarat ia sudah basah kuyup
Allah mahakasih dan sayang
Yang selalu bimbing orang
Yang setia dan yang malang
Jangan anggap seperti dibuang
        Ada jalan karna ikhtiar
        Serta beribu-ribu sabar
        Jadilah hidup yang berkobar
        ’Tuk menuju alam khabar

 Babakan,  2008

Syair Kehidupan


Syair Sumanto (Sang Kanibal)

Kisah tragis menggegerkan dunia
Dari negeri Purbalingga
Negeri yang tenteram dan jaya
Tambah menjadi bercahaya

Seorang anak dari Pelumutan
Karena miskin dan hasutan
Ia tega menggali kuburan
Yang sepi tanpa ketakutan

Diangkatlah mayat Mboh Rinah
Dibawa pulang ke rumah
Dipotong lalu dimamah
Tanpa merasa dosa dan salah

Datanglah sekelompok polisi
Menjemput Sumanto yang aksi
Untuk berlutut di jeruji besi
Menutup segala obsesi

Para tetangga jadi mengutuk
Karena berbuat yang terkutuk
Jadi buah bibir semalam suntuk
Walau akhirnya hati terketuk

Walau tak ada alasan
Kitab belum bicarakan
Sumanto tetap jalani putusan
Sebagai seorang tahanan

Belum genap jalani putusan hakim
Ia sudah tunduk dan ta’zim
Diberilah ia hadiah es krim
Karena menurut dan alim

Kasihan hidup Sumanto kanibal
Tetangga menolak,berpura  tak kenal
Ia tak boleh kembali ke asal
Takut akan membawa sial

Untung datang seorang kyai
Bermaksud untuk berbaik hati
Mengajak ke pondok dan mengaji
Sumanto tersenyum, senanglah hati
Kyai Supono itu namanya
Pemilik pondok jauh dari kota
Di situlah banyak orang lelara
Yang datang  untuk bertamba

Tak lama,  Sumanto jadi pintar
Tubuh pun bertambah kekar
Juga sudah pandai berkelakar
Lupakan kisah hidup yang sukar

Sumanto sungguh sangat tekun
Belajar mengaji dan rukun
Kepada semua tamu ia santun
Kadang pun ia ikut mengalun

Hidup Sumanto semakin berarti
Menjalani hidup yang sekali
Bagi diri dan segenap negeri
Senyumnya tak lagi membuat ngeri

Jadilah Sumanto pasen yang sejati
Selalu ikut ke mana kyai pergi
Sesekali ia disuruh mengisi
Berdakwah bagai seorang kyai

Geli rasanya di dalam dada
Mendengar Sumanto berbicara
Sambil terbata ia bercerita
Lama-lama asyik bercanda

Hidup Sumanto menjadi teratur
Sebagai santri yang termashur
Pandai mengaji dan bertutur
Semua orang jadi bersyukur.


 Purbalingga, 2007

Rabu, 01 Juli 2020

Kaidah Kebahasaan dalam Genre Teks

Kaidah Kebahasaan Teks Artikel

  1. Adverbia Frekuentatif. Adverbia frekuentatif  adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat. Biasanya disebut kata keterangan saja. Frekuentatif adalah menjelaskan kekerapan dan tindakan yang berulang atau bersifat frekuensi. Jadi, adverbia frekuentatif adalah kata keterangan yang menyatakan frekuensi atau kekerapan. Adverbia frekuentatif berfungsi untuk mengekspresikan sikap eksposisi penulis agar dapat meyakinkan pembaca. Adverbia frekuentatif meliputi selalu, sering, biasanya, sebagian besar, kadang-kadang, dan jarang. 
  2. Konjungsi. Konjungsi adalah kata atau gabungan kata yang berfungsi menghubungkan dua satuan bahasa. Macamnya konjungsi antarkata, konjungsi antarfrasa, konjungsi antarklausa, konjungsi antarkalimat. Konjungsi yang sering dijumpai pada teks artikel adalah a. Konjungsi untuk menata argumentasi, seperti: pertama, kedua, berikutnya, selanjutnya; b. Konjungsi untuk memperkuat argumentasi, seperti: selain itu, sebagai contoh, misalnya, padahal, justru, bahkan; c. Konjungsi yang menyatakan sebab akibat, seperti: sebab, akibat, karena, sehingga, oleh sebab itu, oleh karena itu, karenanya, akibatnya; d. Konjungsi yang menyatakan harapan, seperti: supaya, agar, biar, demi.
  3. Kosa kata aktual. Kosa kata akual adalah kata-kata yang sedang menjadi pembicaraan orang banyak saat artikel dipublikasikan. Contoh: Natuna, Sinabung, viral, korupsi, mangkrak, dll. 
  4. Modalitas. Modalitas adalah kata yang digunakan untuk menyatakan sikap terhadap suatu situasi dalam komunikasi antarpribadi. Contoh: barangkali, harus, mungkin, seyogyanya. 
  5. Keterangan aposisi. Keterangan aposisi adalah kata yang digunakan untuk memberikan penjelasan terhadap kata benda. Biasanya kata ini ditulis dengan diapit oleh tanda koma, tanda pisah, atau tanda kurung. Contoh: a. Adikku, anak paman, akan diwisuda. b. Adikku – anak paman – akan diwisuda. c. Adikku (anak paman) akan diwisuda.

Sabtu, 27 Juni 2020

Gurindam

Gurindam Produk Siswa XII IPA 2

Barang siapa yang banyak beriman
Maka hidupnya akan nyaman

Barang siapa suka berbohong
Maka dia akan ompong

Siapakah yang sering menabung
Pastilah dia akan beruntung

insan mana yang suka tertawa
niscaya hidupnya akan awet muda

orang yang pintar mencari ilmu
tentulah hidupnya akan maju

jika selalu pikirkan dunia
maka hidupnya akan sengsara

siswa sukalah bertawur-tawur
pastilah belajarnya jadi ngawur

jikalau kita rajin mengaji
maka hidupnya lebih terpuji (atik)

Lebih baik kita menahan diri
Daripada menyesal di kemudian hari (novia)

Barang siapa mengambil barang saya
Niscaya orang itu akan berdosa (novia)

manakala remidi biologi
maka esok hari akan lari (fany)

Barang siapa menjilat ludah sendiri,
niscaya jalan hidupnya penuh duri (atik)

Hari ini Desi terlihat ceria,
pastilah ia sedang bahagia.(khaefa)

Para pejabat suka korupsi,
tentulah negara akan merugi. (pepy)

Jumat, 14 April 2017

Cerpen

Nyerempet *) 
Joko Rusmanto 

 “Braak! Braak! Braak!” Itulah suara seorang pengendara motor berboncengan memukul-mukulkan helemnya ke kaca bus yang kutumpangi. Jelaslah, semua penumpang terkejut. Penumpang yang sedang duduk menjadi bangkit lalu segera mengarahkan matanya kepada pengendara motor yang sedang melaju menjejer bus tepat di sebelah kanan pintu sopir. Beberapa penumpang yang tengah tertidur juga bangkit lalu mencari-cari sumber keributan. Entah berapa kali pengendara tadi memukul-mukulkan helemnya sambil berteriak-teriak “Bajingan, turun kamu, bangsaat, berhentiii!” Aku mulai panik, ada apa ini. Tiba-tiba saja dua orang pengendara sepeda motor menjejer dan memukul-mukul kaca bus. Aku bersiap-siap untuk mengangkat tas kalau-kalau ada sesuatu bahaya, aku tinggal berlari saja. Kebetulan aku berdiri agak dekat dengan pintu. Memang, saat aku naik, bus ini sudah sesak oleh penumpang, sehingga aku berdiri saja. Sopir bus itu belum juga menghentikan laju bus. Seseorang yang duduk di dekat sopir sudah mencoba untuk membujuk sopir agar berhenti. Akan tetapi, sopir bus itu tetap melajukan busnya. Dua pengendara itu mengurangi kecepatan, lalu mengambil posisi di belakang bus karena dari arah berlawanan ada sebuah truk. Hampir semua penumpang bus berdiri menyaksikan dua pengendara motor itu. Dua pengendara motor itu berubah menyalip dari arah kiri. Namun sayang, ketika pengendara sedang menyalip dari kiri, sopir bus meminggirkan busnya karena dari arah lawan ada sebuah bus yang sedang melintas. Kontan saja pengendara motor itu harus turun dari bahu jalan. Saking emosinya, pengendara itu tak bisa mengendalikan motornya. Stang motor menyentuh bodi bus, lalu oleng-oleng “kraak kraaak”. Roda depan sepeda motor tergerus roda bus bagian belakang. Dua pengendara itu langsung refleks salto walaupun akhirnya wajah satu orang dari mereka membentur pohon mahoni. Semua penumpang tegang dan panik. Dua orang pengendara itu bangkit lalu mengejar bus. Sopir bus tampak gugup. Dari mulutnya keluar kata-kata “astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah”. Seseorang membujuk sopir untuk berhenti. “Hati-hati, Pak! Sabar mawon” kata lelaki yang duduk di depan. “Pak sopir! Jangan turun dulu, biar dia agak reda!” kata seorang ibu yang berdiri di depanku dengan gemetar. “Ya Pak, ya Pak ...!” sahut kami. Tiba-tiba satu orang dari dua pengendara itu telah menghadang persis di depan bus. Bus pun berhenti. Orang tadi langsung mendekati sopir. “Keluar, bangsaat! Cepaaat! Pateni sisan. Kurang ajar!” “Bug, praang ...” kaca jendela dekat sopir hancur dipukul dengan helem. Perlahan sopir bus pun turun, tangannya menggapai-gapai handel pintu sambil mulutnya memohon-mohon maaf dan ampun. “Ampun Pak, Pangapura Pak. Ampun ...!” Belum sampai kaki sopir ke tanah, ia sudah dijemput, diraih, dan disekap, lalu hujan bogem pun turun bertubi-tubi ke arah wajah Pak Sopir. “bug, bug, bug” Pak sopir tetap memohon ampun. Permohonan itu tak digubris. Dua orang itu tambah kesetanan, terus saja melayangkan tinjunya. Tak puas menggunakan tangan, mereka menggunakan helemnya untuk memukul. Satu per satu penumpang turun sambil tergesa-gesa. Mereka berebut pintu untuk keluar. Barangkali mereka berpikir sama denganku, yaitu takut kalau bus ini akan dibakar atau mungkin dihancurkan. Dengan memperhatikan keberingasan pengendara tadi, risiko jelek apa pun bisa terjadi dan menimpa kepada orang satu bus yang tidak tahu menahu tentang sebab musababnya persitiwa ini. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba sekawanan mereka sudah berkumpul, dan langsung satu per satu memberikan pukulan kepada Pak Sopir. Dari bodi-bodi dan pakaian mereka aku menduga kalau mereka adalah para tentara, rambutnya cepak-cepak, kulitnya coklat, tubuhnya kekar-kekar. Ya, mereka adalah tentara yang baru pulang dari pertemuan. Pak sopir terjatuh setelah dipukul perutnya oleh seorang tentara yang baru datang. Penumpang bus sudah berada di luar. Tak ada satu pun di dalam. Mereka takut kalau-kalau busnya dibakar. Aku agak menjauh. Rasa takut dan kasihan membuatku gemetar. Kudengar seseorang penumpang mencoba mengingatkan mereka. Namun, bukan kalimat jawabnya. Akan tetapi, kepretan tangan yang mendarat di wajahnya. Semua terdiam, membisu, takut, juga iba kepada Pak Sopir yang sudah terkapar tidak bergerak. Aku seperti tidak melihat manusia, tetapi menyaksikan iblis yang sedang murka. Tak ada rasa kasihan sedikit pun di hati mereka. Tak ada ampun. Sepertinya Pak Sopir harus mati. Sepertinya juga, mereka merasa bagai malaikat pencabut nyawa. “Mana kondektur dan kernetnya?” bentak seorang yang memukul Pak sopir terakhir. Matanya merah dan menyorotkan dendam, ekspresi marah sedang mengklimaks. Sambil berputar-putar mencari-cari kondektur bus. Tibalah ia di depanku “Mana kondekturnya, Mas?” tanya lelaki itu kepadaku. Aku hanya menggelengkan kepala. Jawabanku hanya mengendon di dada, tak sampai di bibir. Aku sebenarnya marah, nuraniku berontak. Aku tak bisa mencegah kejadian ini. Kelihatannya kalau aku melerai, pasti aku tak bisa pulang dengan selamat. Yah, paling tidak bengkak-bengkak wajahku. “Sungguh mereka itu iblis, manusia berroh iblis” gerutuku dalam hati. Ke mana kondektur bus ini, juga kernetnya? Aku belum hafal betul kondektur dan kernetnya. Aku baru seperempat jam di bus ini. Baru saja tadi ia menarik ongkosku. “:Sialan!” gerutuku lagi. “Pak, njenengan tahu kondektur dan keneknya?” tanyaku pada lelaki di sebelahku. “Wah, ngga hafal, Mas. Biasanya kalau ada seperti ini, kondektur dan kernetnya kabur. “Aduh, berarti .....” Aku menyetop pembicaraan dan segera melanjutkannya di dalam hati. Tiba-tiba kulihat seseorang dari mereka membimbing Pak Sopir untuk duduk. Wajah Pak Sopir biru kemerahan, dari hidungnya mengalir darah. Bibirnya pecah-pecah dan bengkak, dari sudut mulutnya mengalir darah. Matanya tertutup pelipis yang bengkak dan lebam. Aku tak habis pikir. Masa dalam era seperti ini masih ada manusia seperti itu. Sayang, HP-ku tak berkamera. Coba, kalau HP-ku berkamera, pasti aku sudah mengambil adegan tadi dan selanjutnya aku laporkan penganiayaan ini. Tapi, belum tentu juga. Kalaupun HP-ku berkamera dan aku mengambil gambarnya, pasti kalau mereka tahu, mereka akan membanting HP-ku dan memberi bonus bogem. Hii, ngeri juga. Sekawanan tentara itu masih marah, wajahnya berkerut, ekspresinya sadis. Seseorang dari mereka membimbing Pak Sopir untuk berdiri, lalu memapahnya dengan paksa ke arah sebuah sepeda motor yang sejak tadi berada di bahu jalan. Pak Sopir dinaikkan ke atas motor itu. Tanpa kata-kata apa pun, para tentara itu membawanya entah ke mana. Tidak ada yang tahu. “Jangan-jangan Pak Sopir dibawa ke Batalyon untuk bulan-bulanan di sana!” kata lelaki yang di belakangku. “Ke Polsek, kali” sahut ibu berbaju hijau yang sejak tadi duduk di atas batu. “Terus, kita bagaimana? Sopirnya dibawa, kondektur dan kernetnya tidak ada!” “Ya, musibah, Mas” jawab seseorang. Wajah-wajah penumpang bus menjadi kecewa. Ada yang ngomel, ada yang diam. Aku memilih diam, walau sebenarnya aku juga kecewa dengan peristiwa ini. Aku sudah pasti terlambat sampai di rumah. Lagi pula, aku harus mengeluarkan ongkos lagi untuk sampai di rumah. Wajah anak-anakku terbayang. Wajah-wajah itulah yang mampu menghilangkan kekecewaan ini dan memotivasi langkahku ke bus yang lain. *) diadaptasi dari antologi "Kepak-Kepak Pipit"

Rabu, 27 Oktober 2010

Pembelajaran

EKSPLORASI, ELABORASI, DAN KONFIRMASI
DALAM RPP DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN
oleh Joko Rusmanto

A. Definisi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ketiga istilah tersebut bermakna sebagai berikut:
1. Eksplorasi adalah kegiatan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru dari situasi yang baru.
2. Elaborasi adalah penggarapan secara tekun dan cermat.
3. Konfrimasi adalah pembenaran, penegasan, dan pengesahan
B. Pengaplikasian ketiga istilah tersebut dalam rancangan dan proses pembelajaran adalah sebagai berikut
1. Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru melibatkan siswa dalam mencari dan menghimpun informasi, menggunakan media untuk memperkaya pengalaman mengelola informasi, memfasilitasi siswa berinteraksi sehingga siswa aktif, medorong siswa mengamati berbagai gejala, menangkap tanda-tanda yang membedakan dengan gejala pada peristiwa lain, mengamati objek di lapangan dan labolatorium.

Kegiatan guru dan siswa dalam siklus ekplorasi adalah
Siswa
- menggali informasi dengan membaca, berdikusi, atau percobaan
- mengumpulkan dan mengolah data
Guru
- menggunakan berbagai pendekatan dan media
- memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, dan peserta didik dengan sumber belajar
- melibatkan peserta didik secara aktif

2. Elaborasi
Dalarn kegiatan elaborasi, guru mendorong siswa membaca dan menuliskan hasil eksplorasi, mendiskusikan, mendengar pendapat, untuk lebih mendalami sesuatu, menganalisis kekuatan atau kelemahan argumen, mendalami pengetahuan tentang sesuatu, membangun kesepakatan melalui kegiatan kooperatif dan kolaborasi, membiasakan peserta didik membaca dan menulis, menguji prediksi atau hipotesis, menyimpulkan bersama, dan menyusun laporan atau tulisan, menyajikan hasil belajar.

Kegiatan guru dan siswa dalam siklus elaborasi adalah
Siswa
- melaporkan hasil eksplorasi secara lisan atau tertulis, baik secara individu maupun kelompok
- menanggapi laporan atau pendapat teman
- mengajukan argumentasi dengan santun
Guru
- memfasilitasi peserta didik untuk berpikir kritis, menganalisis, meemcahkan masalah, bertindak tanpa rasa takut
- memfasilitasi peserta didik untuk berkompetisi

3. Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, guru memberikan umpan balik terhadap apa yang dihasilkan siswa melalui pengalaman belajar, memberikan apresiasi terhadap kekuatan dan kelemahan hasil belajar dengan menggunakan teori yang dikuasi guru , menambah informasi yang seharusnya dikuasai siswa, mendorong siswa untuk menggunakan pengetahuan lebih lanjut dari sumber yang terpecaya untuk lebih menguatkan penguasaan kompetensi belajar agar lebih bermakna. Setelah memeperoleh keyakinan, maka siswa mengerjakan tugas-tugas untuk mengasilkan produk belajar yang kongkrit dan kontekstual.Guru membantu siswa menyelesikan masalah dan menerapkan ilmu dalam aktivitas yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan guru dan siswa dalam siklus konfirmasi
Siswa
- melakukan refleksi terhadap pengalaman belajarnya
Guru
- memberi umpan balik positif kepada peserta didik
- memberi konfirmasi melalui berbagai sumber terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi
- berperan sebagai narasumber dan fasilitator
- memberi acuan agar peserta didik melakukan pengecekan hasil ekplorasi
- memberi motivasi kepada peserta didik

FITUR KEBAHASAAN PADA GENRE TEKS

Kaidah Kebahasaan pada Pembelajaran Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di SMA diarahkan pada pengembangan ...