Sabtu, 04 Juli 2020

Puisiku


Jangan Lupakan Sejarah
Joko Rusmanto

Masih ingatkah ketika kita dijewer telinganya,
Suatu malam yang tak ada curiga,
Tujuh perwira negara dilecehkan,
Kemudian mereka campakkan dalam sumur buaya?
Pantaskah kita lupa?

Jauh sebelum itu, kita masih ingat Madiun Affair?
Hampir saja poros kiri terbuka.
Hampir saja petani dan buruh dijadikan senjata
Untuk melawan bangsa sendiri!

Bukalah buku Kanigoro!
Nyata benar apa maksudnya.
Cukuplah menjadi sejarah kepecundangannya.
Cukuplah sebagai bukti autentik dan catatan pinggir.
Cukuplah bukti rekam jejak mereka.

Masih ratusan peristiwa
Yang tak mungkin terlupa
Yang telah mengoyak-ngoyak negeri kita.

Sejarah adalah fakta.
Janganlah kita lupa!
Janganlah kita lalai!

Jika kita lalai, mereka akan memaksa
Melalui legislasi dan konstitusi
Karena mereka belumlah mati
Apalagi terkubur!

Awasi bersama,
Jaga dan halangi mereka
Tak boleh satu pun tumbuh
Apa lagi berkembang di negeri kita.

(Babakan, 4 Juli 2020 Refleksi Panasnya Politik Dua Masa Jokowi)

Kamis, 02 Juli 2020

Kaidah Kebahasaan dalam Genre Teks


Kaidah Kebahasaan Teks Proposal

Kaidah kebahasaan yang ada dalam teks proposal adalah

1.    Menggunakan istilah ilmiah, baik yang berkaitan dengan kegiatan yang akan dilakukan atau yang berkaitan dengan bidang keilmuannya.
     Istilah kegiatan (penelitian)
  • abstrak
  • analisis data
  • hipotesis
  • instrumen
  • latar belakang
  • metode penelitian
  • pegolahan data
  • penelitian lapagan
  • pengumpulan data
  • populasi
  • sampel
  • teknik penelitian
     Istilah keilmuan (kelautan)

  • pantai
  • nelayan
  • perahu
  • musim ikan
  • laut
  • nelayan tradisional
  • buruh nelayan
  • nelayan besar
  • desa Pesisir
  • sistem  patron-klien

2.  Menggunakan kata kerja tindakan untuk menyatakan langkah-langkah kegiatan atau metode penelitian. Kata-kata yang dimaksud, misalnya, menentukan,  menyusun, mencari , mengembangkan, melengkapi
Contoh
a.    Langkah pertama adalah menentukan variable penelitian.
b.    Penulis menyusun jadwal kegiatan.
c.    Kita harus mencari besarnya nilai koefisien.

3.  Menggunakan kata-kata yang menyatakan pendefinisian, seperti merupakan, yaitu, yakni, adalah.
Contoh      
a.       Laut merupakan sumber kekayaan negara yang melimpah.
b.      Indonesia mengenal dua musim, yaitu penghujan dan musim kemarau.
c.       Daerah laut Indonesia masih dikelilingi oleh para nelayan, yakni nelayan-nelayan tradisional.
d.      Pantai adalah daerah yang menjadi perbatasan antara air laut dan daratan.

4.   Menggunakan kata-kata yang mengandung makna perincian, seperti  pertama, kedua, selain itu.
Contoh
Nelayan tradisional adalah mereka yang beraktifitas mencari ikan dengan peralatan sederhana. Adapun ciri-ciri mereka adalah Pertama, menggunakan alat secara sederhana, seperti: perahu motor, jaring, atau kail. Kedua, bergerak sendiri-sendiri atau individu. Selain itu, nelayan tradisional juga tidak punya jadwal rutin.

5.  Menggunakan kata-kata yang bersifat ke-akan-an, seperti akan, diharapkan.
Contoh
a.    Sampel yang akan diteliti adalah sejumlah 15%.
b.    Hasil penelitian ini akan diolah dengan statistik sederhana.
c.    Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi peneliti dan pembaca secara umum.

6.  Menggunakan kata-kata denotatif atau bermakna sebenarnya. Hal ini sangat penting untuk menghindari kesalahpahaman antara pihak pengaju proposal dengan pihak penerima proposal.
Contoh
Tanaman yang sudah berumur satu bulan akan keluar bunga-bunga kecil.
Jemur di tempat yang cukup panas agar bahteri-bahteri mati.

Syair Kehidupan


Syair Begja Seorang Penderes

Di sebuah desa yang melarat
Hiduplah seorang pemuda kuat
Lagi baik tutur dan sifat
Pada sesama apalagi kerabat

Tak banyak pikir tak banyak timbang
Selepas eSDe, ia  berpetualang
Layaknya orang tua membanting tulang
Demi memburu segenggam uang

            Putuskan  tuk ikut jejak sang ayah
            Setelah berkelana bersusah payah
            Mencari makan mencari upah
            Hingga hidup pelik dan susah

            Hidupnya teramat sederhana
            Sebagai pengolah nira
            Yang diambil dari manggar kelapa
            Bertahun jalani dengan gembira

Suatu hari hati tertambat
Pada dara yang selalu dihasrat
Cantik elok dan menawan amat
Membuat debar hati selalu kumat 

Ketika disangkanya cukup umur
Apalagi tambah sedikit makmur
Karna bukanlah sebagai penganggur
Bangun siasat, strategi diatur 

Mohon izinlah kepada orang tua
Sampaikan maksud di dalam dada
Untuk melamar si cantik jelita
Yang sudah lama selalu menggoda

Setelah bertukar bertimbang
Dengan rasa berat dan sayang
Putuskan juga untuk tersayang
Berikan izin dan segepok uang 

Dipinanglah gadis pujaan
Membangun bahtera kehidupan
Untuk berlayar mengarung lautan
Menuju pantai kebahagiaan

Tak tahu harus bagaimana
Ungkapkan gembira atau lara
Karna belum berselang lama
Lahirlah si kecil buah damba

Hati senang hidup sang ayah
Walau harus lebih bersusah
Ia jalani hidup dengan payah
Demi taati janji dan petuah

Suatu sore yang temarang
Angin berhembus di atas ilalang
Merdu burung berkicau riang
Siul gadis sambil berdendang

Sore yang temarang menjadi kelabu
Langit senja berubah sendu
Angin menjadi bertiup menderu
Siul gadis menjadi tangis haru

Di ladang yang jauh nan sepi
Si Begja digaris hidup dan mati
Ini bukan mimpi tapi tragedi
Tapi musibah alam sejati

Musibah sedang menjemput
Takdir melintas membawa maut
Yang sungguh-sungguh ditakut
Yang tak bisa dikumut mulut

Pegangan Begja tiba-tiba terlepas
Dari papah kelapa jauh di atas
Melayang menerjun bebas
Terkapar di tanah cadas

Malang tak dapat ditolak
Tak boleh berkata tidak
Semua jadi tersentak
Karena Begja jadi tergeletak

Hari berbulan, bulan bertahun
Di atas dipan Begja tertegun
Hanya dapat rasakan tikar mengalun
Dalam buai malam yang santun


Dalam hidup yang gelisah
Karna  tak dapat mencari maisah
Tersebar-sebarlah risalah
Ia hanya bertawakal dan pasrah

Yang seperti ini terus dijalani
Tak kenali lagi waktu dan hari
Bagai air mengalir di kali
Terus ikuti  muara tlah lampaui

Sampailah pada suatu malam
Kekasih tercinta membuang kelam
Ia tak mau terus terbenam
Dalam hidup yang terasa asam

Sang kekasih putuskan pergi
Tinggalkan Begja yang tak berarti
Karena tak tahan hidup dalam misteri
Memang iman tak punya nyali

Hari berbulan, bulan bertahun
Di atas dipan Begja tertegun
Anak isteri tak ada santun
Tinggalkan dia bertahun-tahun

Hingga kabar berita terpetik
Sang kekasih telah berputik
Bersama lelaki futuristik
Yang tak tahu hidup yang klasik

Memang Begja insan yang sabar
Ia tak pernah sekalipun sesumbar
Hatinya selalu tegar berbinar
Walau petir terasa terus menyambar

Kesabaran akhirnya berbuah manis
Tanpa harus hidup dengan mengemis
Karna ia punya hati yang agamis
Bahwa mengemis adalah amis

Walau hidup dalam keterbatasan
Allah yang rozak telah menetapkan
Semua yang hidup dapat jaminan
Tanpa dilebihkan tanpa dikurangkan.

Syair Kehidupan


Syair Mbah Aceh

Berpuluh tahun Mbah Aceh merantau
Di bumi Serambi Mekah yang berkilau
Sebagai transmigran dari sebrang pulau
Karna di bumi sendiri hidup kacau
Awalnya ia sangat sengsara
Membabad hutan belantara
Membuka ladang membuka asa
Tuk hidupi sanak keluarga
Biji yang disemai mulai tumbuh
Ia jaga dengan sungguh-sungguh
Ditunggu sejak pagi  menjelang subuh
Sampai siang saat membasuh peluh
Tak sia-sia ia membanting tulang
Lagu riang mengumandang dari ladang
Sebagai awal mula mendapat uang
Saat jatah dari negri mulai terbang
Mbah Aceh tersenyum puas
Dia tak ingin bermalas-malas
Juga tak ingin dimelas
Oleh negri yang punya alas
Anak  isteri mulai dituruti
Kain dan kebaya mulai diganti
Makan dan minum mulai bergizi
Aman tentramlah rasa di hati
Saat derajat hendak meningkat
Datanglah orang-orang keparat
Yang kerasukan syetan laknat
Merampas dan membunuh tanpa adat
Tunggang langganglah mereka
Selamatkan diri yang utama
Isteri entahlah ke mana
Anak dan menantu juga
Hanya berbekal secarik kain
Ia harus rela dan yakin
Hanya satu yang dibatin
Tinggalkan ladang beratus ubin
Daripada nyawa melayang
Mati hanya untuk ladang
Lebihlah baik ia pulang
Walaupun harus berpetualang
Entah ke mana ia berlari
        Entah ke mana ia bersembunyi
        Tak tahu arah, tak paham negeri
        Yang utama keselamatan diri
Di pelabuhan ia bertemu
Dengan istri yang sudah keju
Berjam-jam setia menunggu
Dengan rasa mengharu biru
Mereka bertemu soal
Yang tak bisa diakal
Memang mereka sedang sial
Tak sempat membawa sedikit pun bekal
Kepada siapa  harus meminta
Tak ada sanak dan keluarga
Apakah ada orang yang iba
Di tengah-tengah hidup sengsara
Tuhan pengasih dan penyayang
Bertemulah seorang berhati lapang
Walau sendiri sedang gersang
Saudara-saudaranya terhunus pedang
Persamaan nasib jadi berarti
Membawanya sampai negri sendiri
Walau dengan berbagai rasa hati
Semua itu harus disyukuri
Di negri sendiri jadi merana
Rumah sudah tak lagi ada
Tanah juga sudah tiada
Buat modal membuka asa
Seorang tetangga berhati mulia
Meminjamkan rumah sementara
Sampai mereka dapat usaha
Sebagai pengganti rasa kecewa
Air matanya tak henti mengalir
Bila teringat hidup yang anyir
Liku-liku, pahit, dan getir
Yang tiada pernah terpikir
Para sanak yang entah siapa
Gigih membantu tuntaskan lara
Dibangun gubug di belakang musala
Untuk Mbah Aceh pejamkan mata
Mulailah ia menata hidup
Dari berbekal seperti kuncup
Bagai dian yang sudah redup
Ibarat ia sudah basah kuyup
Allah mahakasih dan sayang
Yang selalu bimbing orang
Yang setia dan yang malang
Jangan anggap seperti dibuang
        Ada jalan karna ikhtiar
        Serta beribu-ribu sabar
        Jadilah hidup yang berkobar
        ’Tuk menuju alam khabar

 Babakan,  2008

Syair Kehidupan


Syair Sumanto (Sang Kanibal)

Kisah tragis menggegerkan dunia
Dari negeri Purbalingga
Negeri yang tenteram dan jaya
Tambah menjadi bercahaya

Seorang anak dari Pelumutan
Karena miskin dan hasutan
Ia tega menggali kuburan
Yang sepi tanpa ketakutan

Diangkatlah mayat Mboh Rinah
Dibawa pulang ke rumah
Dipotong lalu dimamah
Tanpa merasa dosa dan salah

Datanglah sekelompok polisi
Menjemput Sumanto yang aksi
Untuk berlutut di jeruji besi
Menutup segala obsesi

Para tetangga jadi mengutuk
Karena berbuat yang terkutuk
Jadi buah bibir semalam suntuk
Walau akhirnya hati terketuk

Walau tak ada alasan
Kitab belum bicarakan
Sumanto tetap jalani putusan
Sebagai seorang tahanan

Belum genap jalani putusan hakim
Ia sudah tunduk dan ta’zim
Diberilah ia hadiah es krim
Karena menurut dan alim

Kasihan hidup Sumanto kanibal
Tetangga menolak,berpura  tak kenal
Ia tak boleh kembali ke asal
Takut akan membawa sial

Untung datang seorang kyai
Bermaksud untuk berbaik hati
Mengajak ke pondok dan mengaji
Sumanto tersenyum, senanglah hati
Kyai Supono itu namanya
Pemilik pondok jauh dari kota
Di situlah banyak orang lelara
Yang datang  untuk bertamba

Tak lama,  Sumanto jadi pintar
Tubuh pun bertambah kekar
Juga sudah pandai berkelakar
Lupakan kisah hidup yang sukar

Sumanto sungguh sangat tekun
Belajar mengaji dan rukun
Kepada semua tamu ia santun
Kadang pun ia ikut mengalun

Hidup Sumanto semakin berarti
Menjalani hidup yang sekali
Bagi diri dan segenap negeri
Senyumnya tak lagi membuat ngeri

Jadilah Sumanto pasen yang sejati
Selalu ikut ke mana kyai pergi
Sesekali ia disuruh mengisi
Berdakwah bagai seorang kyai

Geli rasanya di dalam dada
Mendengar Sumanto berbicara
Sambil terbata ia bercerita
Lama-lama asyik bercanda

Hidup Sumanto menjadi teratur
Sebagai santri yang termashur
Pandai mengaji dan bertutur
Semua orang jadi bersyukur.


 Purbalingga, 2007

Rabu, 01 Juli 2020

Kaidah Kebahasaan dalam Genre Teks

Kaidah Kebahasaan Teks Artikel

  1. Adverbia Frekuentatif. Adverbia frekuentatif  adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat. Biasanya disebut kata keterangan saja. Frekuentatif adalah menjelaskan kekerapan dan tindakan yang berulang atau bersifat frekuensi. Jadi, adverbia frekuentatif adalah kata keterangan yang menyatakan frekuensi atau kekerapan. Adverbia frekuentatif berfungsi untuk mengekspresikan sikap eksposisi penulis agar dapat meyakinkan pembaca. Adverbia frekuentatif meliputi selalu, sering, biasanya, sebagian besar, kadang-kadang, dan jarang. 
  2. Konjungsi. Konjungsi adalah kata atau gabungan kata yang berfungsi menghubungkan dua satuan bahasa. Macamnya konjungsi antarkata, konjungsi antarfrasa, konjungsi antarklausa, konjungsi antarkalimat. Konjungsi yang sering dijumpai pada teks artikel adalah a. Konjungsi untuk menata argumentasi, seperti: pertama, kedua, berikutnya, selanjutnya; b. Konjungsi untuk memperkuat argumentasi, seperti: selain itu, sebagai contoh, misalnya, padahal, justru, bahkan; c. Konjungsi yang menyatakan sebab akibat, seperti: sebab, akibat, karena, sehingga, oleh sebab itu, oleh karena itu, karenanya, akibatnya; d. Konjungsi yang menyatakan harapan, seperti: supaya, agar, biar, demi.
  3. Kosa kata aktual. Kosa kata akual adalah kata-kata yang sedang menjadi pembicaraan orang banyak saat artikel dipublikasikan. Contoh: Natuna, Sinabung, viral, korupsi, mangkrak, dll. 
  4. Modalitas. Modalitas adalah kata yang digunakan untuk menyatakan sikap terhadap suatu situasi dalam komunikasi antarpribadi. Contoh: barangkali, harus, mungkin, seyogyanya. 
  5. Keterangan aposisi. Keterangan aposisi adalah kata yang digunakan untuk memberikan penjelasan terhadap kata benda. Biasanya kata ini ditulis dengan diapit oleh tanda koma, tanda pisah, atau tanda kurung. Contoh: a. Adikku, anak paman, akan diwisuda. b. Adikku – anak paman – akan diwisuda. c. Adikku (anak paman) akan diwisuda.

Sabtu, 27 Juni 2020

Gurindam

Gurindam Produk Siswa XII IPA 2

Barang siapa yang banyak beriman
Maka hidupnya akan nyaman

Barang siapa suka berbohong
Maka dia akan ompong

Siapakah yang sering menabung
Pastilah dia akan beruntung

insan mana yang suka tertawa
niscaya hidupnya akan awet muda

orang yang pintar mencari ilmu
tentulah hidupnya akan maju

jika selalu pikirkan dunia
maka hidupnya akan sengsara

siswa sukalah bertawur-tawur
pastilah belajarnya jadi ngawur

jikalau kita rajin mengaji
maka hidupnya lebih terpuji (atik)

Lebih baik kita menahan diri
Daripada menyesal di kemudian hari (novia)

Barang siapa mengambil barang saya
Niscaya orang itu akan berdosa (novia)

manakala remidi biologi
maka esok hari akan lari (fany)

Barang siapa menjilat ludah sendiri,
niscaya jalan hidupnya penuh duri (atik)

Hari ini Desi terlihat ceria,
pastilah ia sedang bahagia.(khaefa)

Para pejabat suka korupsi,
tentulah negara akan merugi. (pepy)

FITUR KEBAHASAAN PADA GENRE TEKS

Kaidah Kebahasaan pada Pembelajaran Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di SMA diarahkan pada pengembangan ...